Aku merasa kecil, bukan sebab badanku yang agak kecil . Bukan ukuran yang dinilai dari potret fizikal seorang manusia. Layaknya makhluk hidup, aku tumbuh dan berkembang, bukan seperti kupu-kupu yang mengalami metamorfosa. Aku hanya seorang biasa yang memerlukan udara untuk bernafas dan menginginkan teman untuk menyambung nafas. Menghilangkan dahaga di tengah kesepian. Iya, aku merasa sepi. Tiba-tiba duniaku berhenti beroperasi, maka tak ada kata siang ataupun malam sebagai petanda bergantinya hari. Padahal beberapa teman masih bergurau di sana, atau ada pula yang asyik dengan dunia yang diciptakannya sendiri. Benar, manusia seperti Tuhan untuk kehidupan diri. Menentukan segalanya untuknya.
Mungkin tulisan ini terbaca agak kacau, tapi aku hanya berusaha menulis apa yang kufikirkan. Bersandiwara dalam lakon sketsa yang ingin kumainkan. Bukan pentas terbuka. Tempatku hanyalah sebuah belakang panggung. Dimana aku dapat mendengar sang artis mengeluh kepenatan. Atau sang penghias masih asyik berbisik gosip. Aku pun tertimbun dalam tumpukan baju ganti.
Beberapa diantaranya mengenaliku. Mengajakku berbual atau malah ada yang lancang merayu. Ada yang menghujat bahkan tak jarang pula yang memuja. Aku merasa iri dan kerana itulah aku merasa kecil. Disaat manusia lain menilaiku istimewa, disini aku merasa nestapa. Sesungguhnya apa yang sedang kujalani. Dan apa pula yang kucari. Aku mampu meraih apa yang kuinginkan, ironinya aku malah harus merelakan apa yang paling ingin kumiliki. Kasihan bukan?
Aku mengasihani diriku sendiri. Aku hanyalah pengemis yang memberi santunan dalam kotak wang yang kujajakan di pinggir jalan. Padahal tidak ada sang kaya yang melintas. Bahkan sang miskin pun malas menemani. Sungguhpun aku lebih melarat dari yang tidak mampu. Dan tentunya lebih fakir sebagai punca bagi yang tak punya apapun. Beginilah aku saat ini. Aku hanya ingin meminta dan.... STOP!!!! Sudah cukup sudah.. cukup sampai di sini saja....




0 comments:
Post a Comment